Kamis, 29 Januari 2015

Memperbesar Kapasitas



Berbicara mengenai Kerajaan Allah berarti kita berbicara tentang Kapasitas. Bagaimana setiap kita bisa memperbesar kapasitas kita? Seberapa besar kita mengasihi Tuhan lah yang menentukan seberapa besar kapasitas kita. Tidak ada pekerjaan yang terasa berat jika kita mengasihi Tuhan. Seperti halnya seorang pasangan yang selalu sedia melakukan sesuatu demi pasangannya begitu juga setiap kita. Saat kita mengasihi Tuhan lebih maka kita akan melakukan segala sesuatu dengan sukacita untuk kemuliaan Tuhan. Tuhan memberikan kapasitas yang sama kepada setiap manusia. Besar kecilnya kapasitas kita ditentukan oleh seberapa besar kita mengasihi Tuhan.
 “Anak itu bertambah besar dan menjadi kuat, penuh hikmat, dan kasih karunia Allah ada pada-Nya.” Lukas 2:40. Dalam masyarakat Yahudi ada tingkatan yang berbeda-beda dari bayi atau anak sampai seorang anak itu bertumbuh besar. ‘Paidon’ bayi , ‘Paidarion’ anak-anak, ‘Paidiske’ remaja dan ‘Hoyos’ adalah tingkatan anak yang sudah mengenal Tuhan. Dalam Lukas 2:40, dari bayi ‘paidon’ sampai pada tingkatan bertambah besar, kuat dan penuh hikmat ‘hoyos’ perlu adanya suatu proses. Demikian juga untuk memperbesar kapasitas sampai tingkatan ‘hoyos’ perlu yang namanya proses. Orang yang memiliki kapasitas besar pasti tidak akan mengeluh saat memiliki tugas yang banyak. Kapasitas berbicara tentang daya tampung, daya serap, dan kemampuan berproduksi. Kapasitas seperti halnya kapasitor yang berfungsi menghimpun muatan listrik. Ada tiga hal yang bisa kita lakukan untuk memperbesar kapasitas setiap kita.
1.       Berani Berakar
“Tetapi sesudah matahari terbit, layulah ia dan menjadi kering karena tidak berakar.” Lukas 13:6. Untuk dipercayakan berkat Allah yang besar di dalam hidup kita, kita harus berani berakar. Langkah pertama kita untuk memiliki kapasitas yang besar adalah berakar di dalam Tuhan. Tanaman itu layu karena tidak berakar. Banyak orang-orang akan layu dan roboh saat akar mereka tidak kuat. Untuk dipercayakan berkat Allah di dalam hidup kita, kita harus berakar kuat.
Yang namanya akar pasti tidak tampak karena akar berada di dalam tanah. Saat kita berakar tidak semua orang melihat kita dan kita jarang diperhatikan orang lain. Banyak orang tidak mengerti kita tetapi Tuhan selalu mengerti keadaan kita. Orang Kristen yang berakar tidak akan mencari perhatian orang lain karena ia tahu kalau Tuhan memperhatikan hidupnya. Orang yang berakar selalu berharap kepada Tuhan dan tidak berharap kepada manusia. Berakar berarti beriman kepada Tuhan. Orang beriman berbeda dengan orang berpengalaman, orang berpengalaman selalu berbicara masa lalu dan menunjukan kekuatannya sendiri tetapi orang yang beriman berbicara masa depan dan berharap kepada Tuhan. Orang beriman adalah seorang pemenang bukan pecundang, Karena pecundang selalu bangga dengan masa lalunya tetapi pemenang memikirkan masa depan dan berusaha yang terbaik untuk menang. Orang beriman berbeda tipis dengan orang nekat, orang nekat bekerja tanpa dasar yang jelas tetapi orang beriman bekerja atas dasar kebenaran Firman Tuhan.  Orang beriman juga berbeda tipis dengan orang gila, orang gila mengerjakan sesuatu di luar kemampuan manusianya dan tidak memiliki tujuan tetapi orang beriman mengerjakan segala sesuatu di luar kemampuannya dan mempunyai tujuan yang jelas. Beriman juga berbeda tipis dengan serakah, orang serakah tidak pernah puas untuk kepentingan pribadinya tetapi orang beriman tidak pernah puas untuk kemuliaan Tuhan.
Seberapa berani kah kita berkar dalam Tuhan meski pun kita tahu resiko yang akan kita hadapi? Mungkin banyak orang tidak melihat setiap pekerjaan kita, banyak orang tidak memperhatikan kita tetapi ingat Tuhan melihat dan selalu bersama kita.
2.       Berani Bertumbuh
“Sebagian lagi jatuh di tengah semak duri, lalu makin besarlah semak itu dan menghimpitnya sampai mati.” Matius 13:7. Selain berani berakar kita dituntut untuk berani bertumbuh. Untuk berani bertumbuh diperlukan nyali dalam hidup kita. Bertumbuh berarti meninggalkan segala kenyamanan kita. Tujuan dunia adalah agar setiap kita mati. Dunia seperti semak duri yang menghimpit kita saat kita bertumbuh. Kita harus bertumbuh dari Kristen yang biasa-biasa menjadi Kristen yang luar biasa. Walau ada himpitan dari sekitar kita harus tetap kuat karena Allah beserta kita anak-anak-Nya yang mau bertumbuh. Dalam hidupnya pun Yesus di himpit oleh ahli-ahli taurat dan orang-orang Farisi. Kita dihimpit karena dunia dan orang di sekitar kita iri kepada kita.
“Kamu mengingini sesuatu, tetapi kamu tidak memperolehnya, lalu kamu membunuh; kamu iri hati, tetapi kamu tidak mencapai tujuanmu, lalu kamu bertengkar dan kamu berkelahi. Kamu tidak memperoleh apa-apa, karena kamu tidak berdoa.” Yakobus 4:2. Iri hati muncul karena tidak tercapainya tujuan seseorang. Dunia iri kepada setiap kita karena kita memiliki masa depan yang penuh harapan di dalam Tuhan. Saat kita bertumbuh kita harus mau dan siap untuk diproses. Jangan bereaksi saat ada himpitan dan mengeluh atas semua masalah yang terjadi tetapi datang dan berserahlah kepada Tuhan atas semua yang kita alami. Karena tidak ada orang yang berhasil tanpa adanya rasa sakit.
Guru yang baik adalah ketika kita mengijinkan proses situ ada dalam hidup kita untuk setiap kita belajar. Belajar sabar dari orang yang suka marah-marah. Belajar memberi dari orang yang suka meminta dan banyak hal yang bisa kita pelajari dari setiap proses yang ada.
3.       Berbuah Buat Sekitar
“Setiap ranting pada-Ku yang tidak berbuah, dipotong-Nya dan setiap ranting yang berbuah, dibersihkan-Nya, supaya ia lebih banyak berbuah.” Yohanes 15:2. Kita tidak boleh merasa puas jika kita hanya bertumbuh. Tetapi kita harus berbuah dalam hidup ini. Kita harus berbuah dan berguna buat sekitar kita. Banyak orang sukses tetapi tidak berguna bagi orang lain. Jadilah orang yang berbuah dan hidup kita bisa jadi berkat dan berguna bagi yang lainnya.
Kebanyakan setiap orang melakukan segala sesuatu karena kebiasaan. Kita makan, sikat gigi, pakai baju bahkan ibadah pun kita lakukan karena kebiasaan. Saat kita melakukan sesuatu menurut kebiasaan kita maka hasilnya pun akan biasa-biasa saja. Tetapi untuk memperoleh sesuatu hasil yang luar biasa kita harus bekerja secara luar biasa. Hasil yang luar biasa akan kita dapatkan saat kita memiliki mental yang luar biasa. Kebanyakan pemimpin hanya menggunakan 20% kemampuan akademik mereka dan 80% kemampuan sosial mereka. Berani melakukan hubungan sosial dengan sekitar itulah yang menentukan keberhasilan kita. Kita harus memiliki mental pemenang, terus berjalan dan tidak menyerah dengan keadaan.
Saat kita berbuah lebat, yang menjadi pertanyaannya lagi adalah apakah pohon kita mampu menahan buah yang lebat itu. Untuk dapat menerima buah yang lebat itu kembali lagi kita harus memiliki akar yang kuat agar tidak roboh. Kebanyakan orang Kristen kuat saat ada masalah tetapi saat diberkati mereka lupa akan Tuhan. Itulah gambaran orang yang tidak memiliki akar yang kuat dan tidak berkapasitas. Sehingga saat berkat datang ia menjadi tumbang dan meninggalkan Tuhan.

Rabu, 28 Januari 2015

Disertai Tuhan Setiap Saat



“Yesus mendekati mereka dan berkata: "Kepada-Ku telah diberikan segala kuasa di surga dan di bumi. Karena itu pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku dan baptislah mereka dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus, dan ajarlah mereka melakukan segala sesuatu yang telah Kuperintahkan kepadamu. Dan ketahuilah, Aku menyertai kamu senantiasa sampai kepada akhir zaman." Matius 28:18-20. Ada banyak pengajaran yang mengatakan kalau tujuan manusia di bumi adalah untuk memuliakan Tuhan. Ya, itu memang benar tetapi jawaban itu kurang begitu spesifik . Bagaimana kita memuliakan Tuhan? “Berfirmanlah Allah: "Baiklah Kita menjadikan manusia menurut gambar dan rupa Kita, supaya mereka berkuasa atas ikan-ikan di laut dan burung-burung di udara dan atas ternak dan atas seluruh bumi dan atas segala binatang melata yang merayap di bumi." Kejadian 1:26. Kita bisa memuliakan Tuhan dengan cara berkuasa atas bumi. Berkuasa tidak harus kita menjadi pemimpin bangsa. Tetapi saat kita berkuasa di bidang apa pun itu berarti kita mengenapi rencana Allah dalam hidup kita. Kuasa bukan bicara kedudukan tetapi kuasa berbicara soal pengaruh. Saat kita memiliki perkataan yang berkuasa dan berpengaruh dengan sekitar berarti kita mengenapi sudah memuliakan Tuhan.
Dalam Matius 28:20 ada beberapa kalimat yang tidak diterjemahkan dalam bahasa Indonesia dari bahasa aslinya. Dalam alkitab bahasa Sehari-hari ayat 20 berbicara “Dan Sesungguhnya Aku akan bersama kamu kapan pun waktunya sampai habis zaman ini.” Allah menyertai kita sepanjang waktu. Tidak ada tokoh di bumi ini yang berkata pada pengikutnya bahwa ia akan menyertai pengikutinya sepanjang waktu kecuali Yesus Kristus. nabi-nabi atau tuhan yang dipercayai agama lain pun tidak ada yang bejanji kalau ia akan menyertai pengikutnya sampai akhir zaman. Hanya Yesus yang berjanji akan menyertai kita sampai akhir zaman. Rasul Paulus adalah orang besar setelah Yesus yang ada di bumi ini. Saat meninggal pun ia berkata : aku telah mengakhiri pertandingan dengan baik dan telah menjaga iman. Ia tidak berkata akan menyertai para pengikutnya.
Dalam Matius 28:18-20 kita juga menemukan kata ‘kai ido’ atau dalam bahasa Inggrisnya ‘be hold’ yang artinya ‘sesungguhnya’. Kata sesungguhnya adalah kata yang sakral dalam Alkitab karena saat Allah berkata ‘sesungguhnya’ maka kalimat selanjutnya harus kita perhatikan dengan jelas karena Allah telah bersumpah pada diri-Nya sendiri bahwa kalimat selanjutnya akan Ia genapi. Saat Allah berjanji pasti Ia akan menepatinya. Dalam Matius 28:18-20 adalah kata-kata Yesus terakhir buat setiap kita dan pastinya ia akan bersama kita kapan pun waktunya sampai akhir zaman.
Dalam bentuk apakah penyertaan Tuhan dalam hidup kita? Yesus sudah terakat ke surge dan Roh Kudus dicurahkan buat setiap kita. Ada 3 bentuk penyertaan Tuhan dalam hidup ini:
1.       Yesus Menyertai Kita Lewat Firman-Nya
Tuhan menyertai kita lewat Firman dan kasih-Nya dalam Hidup kita. Semua ayat Alkitab yang kita baca tidak akan pernah basi. Apa pun ayat Alkitab yang kita baca itu mengandung janji Allah yang pasti dalam hidup kita. Para Martir Yesus rela mati hanya dengan membaca Firman-Nya. Setiap kita terkadang hanya asal baca Firman Tuhan sehingga kita tidak mendapatkan apa-apa dalam pembacaan kita. Rasul Paulus berkata tidak ada yang bisa memisahkan dia dari kasih Kristus dalam hidupnya. Apa pun penderitaan yang ia hadapi dalam penginjilannya ia merasa tidak ada penderitaan saat Allah bersamanya. Saat ketakutan Allah berkata jangan takut buat setiap kita. Saat keadaan kita tidak baik Allah berfirman segala sesuatu mendatangkan kebaikan buat setiap kita. Ingatlah selalu bahwa Allah terus bersama kit kapan pun sampai akhir zaman.
2.       Yesus Menyertai Kita Dengan Menjadi Perantara
Menurut Melkisedek, Yesus adalah Imam Besar yang menjadi Perantara antara kita dengan Allah Bapa di Surga. Oleh sebab itu semua tetesan air mata kita dihargai dan ditampung dalam kirbat Tuhan. Yang menjamin setiap keluhan kita kepada Bapa di surga adalah Yesus. Tanpa Yesus semua doa dan keluhan kita kepada Tuhan akan sia-sia tidak ada artinya. Tidak ada harapan buat setiap kita jika tidak ada Yesus. Yesus selalu peduli dengan setiap kita. Ia tidak egois, begitu juga dalam hidup kita jangan kita memiliki sifat yang mementingkan diri kita sendiri. Miliki kasih dan pedulilah dengan sekitar kita.
3.       Yesus Menyertai Kita Melalui Penghiburan
“Sampai masa tuamu Aku tetap Dia dan sampai masa putih rambutmu Aku menggendong kamu. Aku telah melakukannya dan mau menanggung kamu terus; Aku mau memikul kamu dan menyelamatkan kamu. “ Yesaya 46:4. Yesus menyertai kita lewat penghiburan. Kita pasti pernah melihat gambar ‘Foot Print’ dimana dalam gambar tersebut digambarkan ada dua jejak kaki kita dan Tuhan. Saat dalam masa sukar tiba-tiba jejak kaki itu jadi sepasang. Manusia berkata kemanakah Tuhan saat kita dalam kesusahan tetapi sesungguhnya dalam kesusahan Tuhan sedang menggendong setiap kita sehingga jejak kaki itu terlihat sepasang dan itu adalah jejak kaki Tuhan. Dia Tuhan yang setia. Saat kita tidak setia pun Tuhan tetap setia karena Ia tidak dapat menipu diri-Nya sendiri. Dia adalah Allah yang setia.  Ada saatnya setiap kita tidak mampu menjalani hidup ini dan saat itulah Tuhan akan memberikan penghiburan buat setiap kita.

Dalam Alkitab hanya ada 2 hal: Berita dan Perintah Allah. Dalam Matius 28:18-20 Tuhan berkata ‘ajarlah mereka’ yang dalam bahasa Inggrisnya ‘be disciple’ yang artinya Tuhan menginginkan setiap kita untuk memuridkan orang lain. Pemuridan mengajarkan iman kita kepada murid yang kita ajarkan.

Senin, 29 Desember 2014

Menjadi Teladan



Rasul Paulus begitu bangga punya murid seperti Timotius. Apakah yang menyebabkan Paulus begitu bangga kepada Timotius? Ada alasan mengapa Rasul Paulus bangga kepada Timotius, “Sebab aku teringat akan imanmu yang tulus ikhlas, yaitu iman yang pertama-tama hidup di dalam nenekmu Lois dan di dalam ibumu Eunike dan yang aku yakin hidup juga di dalam dirimu.” 2 Timotius 1:5. Timotius memiliki iman yang tulus iklas dari ibunya Eunike dan neneknya Lois. Timotius bisa seperti itu karena warisan teladan dari sebuah keluarga. Keluarga Timotius memberikan teladan yang baik kepadanya sehingga ia pun memiliki kepribadian dan teladan yang baik juga.
Teladan adalah sesuatu yang patut ditiru atau dicontoh. Meneladani adalah meniru atau mencontoh perilaku seseorang. Teladan berasal dari bahasa Ibrani ‘parakone’, dalam bahasa Inggris teladan diambil dari kata ‘paragon’ yang artinya contoh atau teladan yang sempurna untuk ditiru. Untuk menjadi teladan kita harus menjadi sempurna. Teladan yang sempurna bisa kita lihat dari kehidupan Yesus.
Dalam kehidupan berkeluarga, apapun yang diperintahkan orang tua ke anak pasti akan ditiru oleh anak itu suatu kelak. Keteladanan adalah perilaku seseorang yang sengaja atau tidak sengaja yang akan dicontoh oleh orang yang melihatnya, baik itu teladan baik ataupun teladan buruk. Yang paling berpengaruh dalam kehidupan seorang anak adalah orang tua anak tersebut. Apa yang dilakukan orang tua di depan anak pasti akan terserap dalam memori anak itu. Oleh karena itu beri teladan yang baik kepada anak-anak mulai sejak kecil. Seorang guru pasti memberi teladan yang baik kepada anak didiknya. Bagaimana kita bisa berfungsi menjadi teladan baik dikeluarga kita?
1.       Memberikan teladan yang baik
“dan jadikanlah dirimu sendiri suatu teladan dalam berbuat baik. Hendaklah engkau jujur dan bersungguh-sungguh dalam pengajaranmu, sehat dan tidak bercela dalam pemberitaanmu sehingga lawan menjadi malu, karena tidak ada hal-hal buruk yang dapat mereka sebarkan tentang kita.” Titus 2:7-8.
Anak tidak suka mendengar perkataan orang tua mereka tetapi anak-anak suka melihat contoh-contoh yang nyata yang dilakukan oleh orang tua mereka. Hal-hal sederhana seperti berdoa sebelum makan dan tidur. Saat orang tua memulai segala sesuatu dengan doa pasti anak-anak mereka akan mencontoh dan meneladani kehidupan mereka.
Teladan kasih sayang dan memberi rasa aman.  Anak-anak suka jika saat dekat orang tua mereka ia merasa mendapat kasih sayang dan rasa aman. Jangan sampai rasa aman anak berganti kepada orang lain. Orang tua harus memberi teladan dalam hal rasa aman kepada anak. Penting buat orang tua untuk memberi teladan rasa aman karena suatu kelak nanti anak-anak akan menir apa yang kita lakukan.
Rasa Hormat. Sekarang ini anak-anak kurang bisa menghormati orang-orang yang lebih tua dari mereka. Mulailah dari keluarga untuk hidup saling menghormati yang lain. Istri hormat kepada suami dan suami hormat kepada istri. Karena apapun yang dilakukan orang tua di rumah itu akan menjadi role model buat anak-anak. Baik teladan yang baik ataupun teladan yang buruk. Teladan seharusnya adalah sesuatu yang baik yang bisa dicontoh. Terkadang orang tua lupa saat marah meraka melakukan adu mulut di depan anak-anak mereka. Hati –hati akan hal itu karena anak bisa mencontoh apa yang dilakukan orang tua di rumah mereka.
Hal-hal baik yang bisa kita lakukan antara lain adalah memiliki perkataan yang lembut dan santun satu dengan yang lain, melakukan sentuhan-sentuhan fisik yang perlu kepada anggota keluarga contoh orang tua memeluk anaknya, saat orang tua melakukan sentuhan-sentuhan fisik seperti halnya memeluk anak itu akan membuat ikatan cinta kasih antara orang tua dan anak, selain itu perlu juga adanya waktu untuk orang tua dan anak-anak berkumpul bersama.
2.       Menanamkan dasar-dasar Firman Tuhan
Ingatlah juga bahwa dari kecil engkau sudah mengenal Kitab Suci yang dapat memberi hikmat kepadamu dan menuntun engkau kepada keselamatan oleh iman kepada Kristus Yesus. Segala tulisan yang diilhamkan Allah memang bermanfaat untuk mengajar, untuk menyatakan kesalahan, untuk memperbaiki kelakuan dan untuk mendidik orang dalam kebenaran. Dengan demikian tiap-tiap manusia kepunyaan Allah diperlengkapi untuk setiap perbuatan baik.” 2 Timotius 3:15-17.
Tanamkan dasar-dasar Firman Tuhan dalam kehidupan anak-anak. Ajar setiap anak untuk berdoa kepada Tuhan dan beriman kepada Tuhan. Seperti halnya berdoa saat sakit, cukup sederhana tetapi pasti ada mujizat Tuhan yang terjadi dalam hidup anak-anak. Saat kita mengajarkan dan menanamkan dasar-dasar firman Tuhan pasti itu akan terus turun ke generasi berikutnya. Memberi teladan kepada anak-anak itu berarti kita memberi kehidupan kepada anak-anak tersebut.
3.       Mendisiplinkan anak
“Tongkat dan teguran mendatangkan hikmat, tetapi anak yang dibiarkan mempermalukan ibunya. Jika orang fasik bertambah, bertambahlah pula pelanggaran, tetapi orang benar akan melihat keruntuhan mereka. Didiklah anakmu, maka ia akan memberikan ketenteraman kepadamu, dan mendatangkan sukacita kepadamu.” Amsal 29:15-17.
Perlu adanya kerjasama yang baik antara ayah dan ibu saat menegur anak-anak mereka yang melakukan salah. Jangan bela seorang anak saat ia melakukan hal yang salah. Kalau kita mau mendidik anak kita itu tidak dilarang dalam Firman Tuhan. Disiplin itu perlu, saat anak melakukan kesalahan disiplinkan anak itu saat itu juga jangan tunggu besok atau nanti. Selain itu harus ada konsistensi dalam mendisiplinkan seorang anak. Saat seorang anak melakukan kesalahan yang sama jangan bosan-bosan untuk menegurnya. Keteladanan orang tua akan menjadi panutan dan acuan masa depan si anak. Anak adalah titipan Tuhan buat setiap kita oleh sebab itu jadilah teladan buat mereka.

Rabu, 10 Desember 2014

Dirham Yang Hilang



Ada tiga perumpamaan yang Tuhan sampaikan dalam Lukas 15. Lukas 15:1-7 Perumpamaan tentang domba yang hilang. Lukas15:8-10 Perumpamaan tentang dirham yang hilang. Lukas 15:11-32 Perumpamaan tentang anak yang hilang. Yesus selalu memberikan perumpamaan dalam setiap pengajarannya. Perumpamaan adalah sebuah cerita singkat kehidupan sehari-hari untuk menunjukan kebenaran Firman Tuhan. Tuhan Yesus ingin agar orang yang diajar-Nya mengerti apa yang Tuhan maksud dan Tuhan sampaikan kepada mereka. Perumpamaan biasanya disesuaikan dengan apa yang terjadi di lingkungan tersebut.
Perumpamaan Dirham yang Hilang dalam Lukas 15:8-10 dan dua perumpamaan lainnya ini muncul karena orang-orang Farisi dan ahli-ahli Taurat yang bersungut-sungut melihat Tuhan Yesus dan orang berdosa duduk sehidangan. “Para pemungut cukai dan orang-orang berdosa biasanya datang kepada Yesus untuk mendengarkan Dia. Maka bersungut-sungutlah orang-orang Farisi dan ahli-ahli Taurat, katanya: "Ia menerima orang-orang berdosa dan makan bersama-sama dengan mereka." Lukas 15:1-2. Dalam perumpamaannya Tuhan ingin menjelaskan bahwa Ia datang untuk orang berdosa bukan orang yang kudus.
“"Atau perempuan manakah yang mempunyai sepuluh dirham, dan jika ia kehilangan satu di antaranya, tidak menyalakan pelita dan menyapu rumah serta mencarinya dengan cermat sampai ia menemukannya? Dan kalau ia telah menemukannya, ia memanggil sahabat-sahabat dan tetangga-tetangganya serta berkata: Bersukacitalah bersama-sama dengan aku, sebab dirhamku yang hilang itu telah kutemukan. Aku berkata kepadamu: Demikian juga akan ada sukacita pada malaikat-malaikat Allah karena satu orang berdosa yang bertobat." Lukas 15:8-10
Menurut tradisi orang Yahudi tanda pengikat perempuan Yahudi dalam pernikahannya adalah 10 keping dirham yang berlubang dan disatukan dengan pengikat kemudian dipakai oleh seorang wanita yang sudah tunangan atau menikah. Dalam Lukas 15:8-10, mengapa wanita tersebut mencari satu dirham yang hilang padahal masih ada sembilan dirham lainnya? Hal ini disebabkan karena buat wanita itu 10 dirham tanda pengikat pernikahan itu sangat berharga dan merupakan tanda pengikatnya. Begitu juga dengan hidup kita di hadapan Tuhan. Hidup kita sangat berharga di hadapan Tuhan. Jiwa seseorang sangat berharga di mata Tuhan. Mengapa Yesus mencari yang terhilang?
1.       Karena Kita Berharga Di Mata Allah
“Oleh karena engkau berharga di mata-Ku dan mulia, dan Aku ini mengasihi engkau, maka Aku memberikan manusia sebagai gantimu, dan bangsa-bangsa sebagai ganti nyawamu.” Yesaya 43:4. Kita berharga di mata Tuhan karena Tuhan mengasihi kita. Jiwa seseorang itu penting di mata Allah. Siapapun orang di sekitarmu mereka berharga di hadapan Allah. “Jika aku melihat langit-Mu, buatan jari-Mu, bulan dan bintang-bintang yang Kautempatkan: apakah manusia, sehingga Engkau mengingatnya? Apakah anak manusia, sehingga Engkau mengindahkannya? Namun Engkau telah membuatnya hampir sama seperti Allah, dan telah memahkotainya dengan kemuliaan dan hormat. “ Mazmur 8:4-6.
Sudahkah kita bersyukur di hadapan Tuhan karena setiap kebaikan-Nya. Kita adalah ciptaan Tuhan yang berharga. Saat kita sadar kalau hidup kita berharga, jangan sampai kesadaran itu sampai diri kita saja. Sadarilah kalau orang di sekitar kita juga berharga karena satu jiwa sangat berharga di mata Allah. Buatlah orang sekitar kita sadar kalau hidup mereka berharga  dan jangan sampai kehilangan jiwa mereka. Mari kita periksa masing-masing dalam hidup kita, Apakah orang-orang di sekitar kita baik keluarga atau sahabat kita masih dalam genggaman kita atau mereka terhilang seperti dirham yang hilang dalam Lukas 15:8-10? Kehilangan jiwa bisa terjadi karena kekayaan, kekecewaan, sakit hati dan banyak yang lainnya. Terkadang diri kita sendiri yang membuat mereka terhilang. Teladanilah sikap Yesus, ia mengasihi setiap orang dan mencari yang terhilang karena hidup setiap manusia berharga di mata Allah.
2.       Misi Yesus Menyelamatkan Umat Yang Terhilang
“Yang hilang akan Kucari, yang tersesat akan Kubawa pulang, yang luka akan Kubalut, yang sakit akan Kukuatkan, serta yang gemuk dan yang kuat akan Kulindungi; Aku akan menggembalakan mereka sebagaimana seharusnya.” Yeheskiel 34:16. Yesus selalu bergerak dan mencari umat yang terhilang. Carilah jiwa-jiwa yang terhilang dengan mata jasmani dan rohani kita. Marilah kita peka untuk melihat jiwa-jiwa yang terhilang. Marilah kita menyelamatkan mereka yang terhilang “Aku berkata kepadamu: Demikian juga akan ada sukacita di sorga karena satu orang berdosa yang bertobat, lebih dari pada sukacita karena sembilan puluh sembilan orang benar yang tidak memerlukan pertobatan." Lukas 15:7. Aka nada sukacita besar di sorga jika ada satu jiwa yang diselamatkan. Milikilah mata yang peka melihat yang terhilang.