Kamis, 21 November 2013

Berkat Di Dalam Mengampuni



                Pada abad ini manusia banyak dikuasai kehendak. Orang bisa melakukan segala hal saat kehendaknya tidak dipenuhi. Oleh karena itu, manusia harus bisa menguasai kehendak dan emosinya. Kehendak adalah bagian dari jiwa manusia. Saat kehendak manusia tidak bisa dikontrol maka terjadi hal yang tidak baik. Seperti halnya Hitler, dia adalah seseorang yang berasal dari keturunan Jerman dan Yahudi. Hitler sangat benci sama Ayahnya yang seorang Yahudi karena Ayahnya telah meninggalkan Ibunya. Saat Hitler menjadi seorang pemimpin, ia banyak membunuh orang-orang Yahudi. Hitler dikuasai oleh kehendaknya. Demikian juga seperti halnya Yunus yang di suruh Allah pergi ke Niniwe, tetapi ia malah lari ke Tarsis. Niniwe adalah bangsa yang pernah membunuh semua keluarga Yunus. Saat Allah menyuruh Yunus memberitakan kabar keselamatan untuk bangsa Niniwe, ia teringat masalah itu dan berbelok dari jalan Tuhan.
                Seperti cerita Hitler dan Yunus, karena tidak ada pengampunan mereka melakukan hal yang salah di mata Tuhan. Mengampuni tidak seperti menghapus file yang berada di laptop. Saat file yang salah dihapus maka file itu akan masuk ke recycle bin dan saat kita merestore kembali maka file itu akan muncul kembali. Mengampuni adalah melepaskan sesuatu dan kita tidak bisa mengambilnya kembali. Seperti halnya mentransfer uang, saat uang sudah ditransfer ke seseorang, uang tersebut tidak bisa di tarik lagi dari ATM seseorang.
                Ada lima kebenaran tentang hal pengampunan:
1.       Mengampuni merupakan bukti seseorang sudah menerima pengampunan dari Allah.
Saat kita tidak mengampuni maka kita sama saja menghukum diri kita sendiri. Mengampuni dan mengasihi adalah perintah dari Allah untuk setiap kita. Aku memberikan perintah baru kepada kamu, yaitu supaya kamu saling mengasihi; sama seperti Aku telah mengasihi kamu demikian pula kamu harus saling mengasihi. Dengan demikian semua orang akan tahu, bahwa kamu adalah murid-murid-Ku, yaitu jikalau kamu saling mengasihi." Yohanes 13 : 34 – 35. Ada tiga berkat yang kita terima dari Tuhan. Berkat keselamatan, berkat pengampunan dan berkat kesehatan.  Dosa ‘tidak mau mengampuni’ sangat membahayakan  manusia. Karena saat kita tidak mengampuni sesama kita maka Allah tidak akan mengampuni kesalahan kita. Seperti yang di ajarkan Yesus di dalam doa Bapa kami. dan ampunilah kami akan kesalahan kami, seperti kami juga mengampuni orang yang bersalah kepada kami; Matius 6 : 12. Ada berkat di dalam pengampunan. Karena saat kita mau mengampuni maka Allah akan mengampuni kita. Jika kita tidak mau mengampuni maka kita tidak mempunyai tanda pengampunan dari Allah.
2.       Mengampuni merupakan bukti tindakan kasih.
Yesus pernah berkata, bagaimanakah kita bisa mengasihi Tuhan kalau saudara kita yang terlihat saja kita tidak bisa mengasihi mereka. Banyak orang bertanya dimanakah surga? Apakah di bumi ini ada surga? Surga yang ada di bumi berbicara tentang damai sejahtera, kasih dan berkat. Saat kita memiliki sikap mengampuni dan mengasihi maka akan ada surga di sekitar kita. Jika kita ingin menikmati suasana surga maka milikilah sikap mengampuni dan mengasihi di keluarga kita dan di sekitar kita. Setiap orang yang membenci saudaranya, adalah seorang pembunuh manusia. Dan kamu tahu, bahwa tidak ada seorang pembunuh yang tetap memiliki hidup yang kekal di dalam dirinya. 1 Yohanes 3 : 15. Miliki kasih dan pengampunan buat sekitar kita dan jadilah orang pintar. Orang pintar melakukan apa yang menjadi bagiannya. Karena orang pintar tau mana yang menjadi bagiannya, mana bagian orang lain dan ia tau mana yang menjadi bagian Tuhan. Tetapi orang bodoh melakukan semua hal dan ia tidak tau mana yang merupakan bagian Tuhan. Mengampuni sesama adalah bagian kita, bagian Tuhan adalah mengampuni dosa kita dan memberkati kita.
3.       Mengampuni membuat kita bisa berdoa dengan baik.
Tuhan tidak menjawab doa kita bukan saja karena kita salah berdoa, salah satu penyebabnya adalah sikap yang sulit untuk mengampuni sesama. Saat kita mau mengampuni sesama, maka doa kita akan memiliki akses yang cepat ke surga. Karena setetes darah Yesus bisa menyucikan kita saat kita bisa mengampuni orang lain. Saat kita tidak mengampuni maka hidup kita seperti di bawah langit tembaga dimana doa-doa yang kita naikan ke Allah tidak pernah bisa sampai. Doa yang lahir saat ada pengampunan adalah doa yang berkenan bagi Tuhan. doa adalah suara yang menghasilkan bahasa kita kepada Tuhan. Doa memiliki banyak bahasa, bahasa air mata, bahasa hati dan juga bahasa yang dimengerti Allah. Tetapi bahasa itu tidak bisa didengar Tuhan saat dalam hidup kita tidak ada pengampunan buat sesama kita yang bersalah pada kita. Berkat doa kita bisa menghampiri kerajaan Allah.
4.       Mengampuni sesama agar kita tidak menghasilkan akar kepahitan.
Ada suatu penyakit dalam hidup manusia yang tidak bisa dideteksi oleh alat-alat medis kedokteran. Suatu penyakit yang bisa menimbulkan penyakit kangker dan penyakit berbahaya lainnya. Ia adalah akar pahit. Penyakit ini ada di dalam hati dan hidup seseorang yang tidak bisa mengampuni. Berusahalah hidup damai dengan semua orang dan kejarlah kekudusan, sebab tanpa kekudusan tidak seorangpun akan melihat Tuhan. Jagalah supaya jangan ada seorangpun menjauhkan diri dari kasih karunia Allah, agar jangan tumbuh akar yang pahit yang menimbulkan kerusuhan dan yang mencemarkan banyak orang. Ibrani 12 : 14 – 15.
5.       Mengampuni membuat kita mudah mendapat pewahyuan dari Allah.
Di dalam Alkitab banyak orang yang bisa mendengar suara Tuhan. Tetapi dewasa ini, banyak orang yang tidak bisa mendengar suara Tuhan karena tidak ada pengampunan dalam hidup mereka. Kita akan sulit mengerti isi Alkitab saat tidak ada pewahyuan dalam hidup kita. Saat kita sudah bisa mengampuni seseorang maka kita akan menerima pewahyuan. Saat kita tidak bisa mengampuni maka ada selubung yang menutupi hidup kita. Pengampunan membutuhkan korban dan tidak mencari korban.

MENJADI TELADAN



                Timotius adalah anak rohani dari Rasul Paulus. Timotius adalah anak yang lahir dari pernikahan campuran dimana ibunya adalah seorang Yahudi dan ayahnya dari Yunani. Timotius menjadi Kristen saat Paulus menjalankan misinya yang pertama. Timotius dipanggil Tuhan saat umur sekitar 16-17 Tahun. Nama Timotius memiliki arti orang yang saleh. Timotius layak menerima nama ini karena sejak kecil ia sudah mengenal ajaran Firman Tuhan dari ibunya dan juga neneknya. Ajarkanlah Firman Tuhan kepada anak-anak sejak masih kecil sehingga ia memiliki hidup yang takut akan Tuhan. Karena hari-hari ini banyak anak muda yang salah jalan karena kurang diisi dengan Firman Tuhan.
                Dalam nasihatnya kepada Timotius, Rasul Paulus memberikan nasihat untuk menjadi teladan bagi orang percaya. Jangan seorangpun menganggap engkau rendah karena engkau muda. Jadilah teladan bagi orang-orang percaya, dalam perkataanmu, dalam tingkah lakumu, dalam kasihmu, dalam kesetiaanmu dan dalam kesucianmu. 1 Timotius 4 : 12. Jadilah teladan dalam perkataanmu. Kebanyakan perkataan anak muda tidak terkontrol dan tidak sesuai dengan Firman Tuhan. Jagalah perkataan kita agar bisa menjadi berkat untuk sekitar karena perkataan bisa membawa dampak yang besar buat hidup seseorang dan juga sekitar kita. Jadilah juga teladan dalam tingkah laku kita. Tingkah laku berbicara tentang karakter dan sifat seseorang. Biarlah lewat tingkah laku kita sekitar menjadi terberkati dengan keberadaan kita. Jadilah teladan dalam kasihmu. Biarlah kita memilih kasih yang tanpa pamrih dalam hidup ini. Begitu juga kita harus menjadi teladan dalam kesetiaan kita. Apakah kita setia dengan pasangan kita? Banyak kesetiaan yang mulai pudar dalam setiap keluarga hari-hari ini. Tanpa kesetiaan akan kita temui banyak rumah tangga yang akan hancur. Selain itu kita harus menjadi teladan dalam kesucianmu. Kesucian berbicara tentang kekudusan kita dalam menjalankan hidup ini. Teruslah mempunyai hidup kudus dalam hidupmu.
                Apa saja karakter yang harus ada dalam hidup kita agar kita bisa menjadi teladan buat sekitar?
1.       Pedulilah pada orang-orang yang tersingkir.
Seperti teladan Yesus yang sering bergaul dengan orang-orang yang tersingkirkan. Begitu juga kiranya hidup kita. Ikutilah teladan Yesus dalam hidup kita. Ia peduli kepada orang lumpuh, Ia peduli pada orang buta dan ia peduli pada semua orang yang tersingkirkan.
2.       Integritas.
Dalam kata integritas terkandung tiga hal, yaitu kejujuran, ketaatan dan kesetiaan. Ia tidak berbuat dosa, dan tipu tidak ada dalam mulut-Nya. 1 Petrus 2 : 22. Saat kita mengaku kalau kita adalah anak Tuhan maka hidup kita harus seperti hidup Kristus yang memiliki integritas dalam hidup-Nya. Milikilah integritas baik dalam pelayananmu dan juga dalam pekerjaanmu. Anak muda adalah harapan kerajaan Allah, penyambung lidah Allah dan juga sebagai contoh generasi yang akan datang. Oleh karena itu milikilah integritas dalam hidupmu.
3.       Ketaatan dalam menjalankan tugas dan tanggung jawab.
Seperti halnya Yesus yang taat menjalankan tugas dari Bapa untuk mati di kayu salib menebus dosa manusia. Demikian juga hidup kita. Milikilah ketaatan dalam setia tugas dan tanggung jawab yang sudah dipercayakan untuk setiap kita. Biarlah ketaatan terus ada dan melekat dalam hidup kita.
4.       Menunjukan kasih kepada semua orang.
Biarlah setiap kita memiliki kasih seperti yang Kristus miliki, kasih yang murni, kasih yang tanpa menuntut imbalan apapun. Saat hidup kita memiliki kasih Kristus maka hidup kita pasti bisa menjadi teladan buat sekitar kita.
5.       kerendahan hati sebagai hamba.
Yesus adalah pribadi yang rendah hati dalam setiap pelayanannya. Yesus adalah raja di atas segala raja. Tetapi Ia rela turun ke dalam dunia dan lahir di kandang domba. Ia pun tidak memilih orang kaya sebagai orang tua-Nya tetapi Ia lahir dari anak tukang kayu. Kerendahan hati-Nya pun dapat kita lihat dari tindakan-Nya yang membasuh kaki murid-murid-Nya. Milikilah sifat rendah hati dalam hidup kita dan hiduplah seperti Kristus. Menjadi pengikut Kristus harus berani bayar harga, menyangkal diri dan pikul salib. Terus jadilah teladan buat sekitar kita dan terus hidup sama seperti Kristus.

“Tongkat Musa”



            Saat menghadapi suatu desakan, terkadang setiap manusia pandai mencari alasan untuk lepas dari desakan tersebut. Begitu juga halnya dengan Musa saat diutus Allah memimpin bangsa Israel keluar dari tanah Mesir. Saat di Midian Tuhan Allah sudah berfirman kepada Musa untuk kembali ke Mesir sebab orang-orang yang ingin mencabut nyawanya telah mati. Tetapi Musa masih ragu-ragu atas perintah Tuhan untuk memimpin bangsa Israel. Di dunia ini ada tiga kelompok manusia: Pertama Kelompok orang yang ragu-ragu. Mereka mengetahui kebenaran Firman Tuhan tetapi mereka masih belum percaya dan ragu-ragu akan Firman-Nya. Seperti halnya Musa dalam Keluaran 4:1-20. Kedua, Kelompok orang yang kuatir dan bingung. Mereka sudah melangkah bersama Tuhan tetapi ditengah jalan karena mereka berpikir dengan logika mereka, mereka menjadi kuatir sendiri dan kebingungan. Dan Kelompok yang ketiga, Kelompok orang-orang yang merasa nyaman. Kelompok orang-orang yang suam-suam kuku dan menganggap setiap ibadah mereka adalah rutinitas biasa.

Ada 4 alasan yang diutarakan Musa kepada Tuhan Allah dalam Keluarn 4:1-20
1.      Musa bertanya: Siapakah aku Tuhan? Keluaran 4:11-12
Jangan menjadi orang yang amnesia di dalam Tuhan. Kenali diri kita dan kenalilah Tuhan Allah kita. Jangan melihat keterbatasan kita tetapi lihatlah Tuhan Allah yang terus menyertai dan memampukan kita.
2.      Musa berkata: Aku tidak tahu berkata apa-apa. Keluaran 4:13-14
Musa adalah orang terdidik. Ia bukan orang yang tidak pandai bicara. Ia merasa rendah diri dan ragu-ragu saat Tuhan mengutusnya.
3.      Musa bertanya: Bagaimana kalau bangsa Israel tidak mendengarkannya? Keluaran 4:1
Musa kehilangan otoritas dari Allah.
4.      Musa berkata: Ia berat lidah dan tidak pandai bicara. Keluaran 4:10
Saat kita mau dipakai Tuhan maka Tuhan sendirilah yang akan berbicara lewat bibir dan lidah kita.

            Apakah kita sadar saat Firman Tuhan datang buat setiap kita, kita sering mencari alasan seperti halnya Musa. Kita mencari alasan untuk menghindar dari itu semua. Terkadang setiap kita berfikir bahwa Firman Tuhan yang kita dengar itu cocok untuk saudara kita, teman kita ataupun orang lain. Padahal setiap Firman yang kita dengar, Tuhan ingin berbicara buat setiap kita. Lewat kebenaran Firman Tuhan ini, kita akan belajar Bagaimana Musa bisa berubah dari orang yang mempunyai banyak alasan menjadi orang yang dengar-dengaran dengan Tuhan. Ada tiga hal yang akan kita pelajari dari kisah Musa ini:
1.      TUHAN berfirman kepadanya: "Apakah yang di tanganmu itu?" Keluaran 4:2
Musa memiliki tongkat yang terbuat dari kayu yang ia pakai untuk menuntun dan menjaganya saat ada hewan-hewan buas. Di dalam diri setiap kita punya potensi yang bisa dipakai untuk kemuliaan Tuhan. Kita bisa Berdoa untuk bangsa kita. Kita punya Kesaksian dan Firman Allah untuk membangkitkan semangat orang-orang di sekitar kita, selain itu juga, kita punya kemampuan yang diberikan Tuhan. Kenalilah diri kita. Permasalahannya adalah bukan siapa kita tetapi siapa yang mengutus kita. 1 Korintus 1:27-28.
2.      Tuhan ingin Musa menyerahkan apa yang Ia punya.
Musa pun menyerahkan tongkat yang ada di tanganya.  Di tangan Musa tongkat itu dipakai Tuhan untuk menyatakan mujizat-Nya. Seperti halnya membelah laut Tiberau, mengubah air menjadi darah, membawa kemenangan atas orang Amalek dan juga memberi tulah-tulah pada bangsa Mesir. Saat kita mempertahankan sesuatu, maka kita akan kehilangan sesuatu yang mungkin itu berharga buat setiap kita. Belajarlah menyerahkan kemampuan kita kepada Tuhan. Serahkan apa yang kita punya maka kita akan melihat mujizat Tuhan. seperti halnya, Anak kecil yang mempunyai 5 roti dan 2 ikan yang memberi makan 5.000 orang. Janda di sarfat yang memberi tepung dan minyak untuk Elia. Maria yang memiliki minyak narwastu untuk menyeka kaki Yesus, Seorang janda yang mempunyai 2 keping mata uang dan Tuhan memuji persembahannya itu, dan masih banyak yang lainnya. Tuhan senang saat kita mau menyerahkan apa yang berharga bagi kita untuk kemuliaan Tuhan.
3.      Apa yang kita serahkan kepada Tuhan, itu akan menjadi milik Tuhan Allah.
Saat Musa menyerahkan tongkat tersebut kepada Tuhan maka tongkat Musa menjadi tongkat Allah. Begitu juga halnya saat kita menyerahkan hidup kita kepada Allah maka kita adalah kepunyaan Allah. Kita menjadi milik Allah dan akan dipakai-Nya menjadi berkat untuk orang lain. Hari-hari ini berdoalah untuk generasi ini, karena hal inilah yang dibutuhkan dunia saat ini. Saat kita berdoa maka doa-doa itu akan terikat dengan apa yang kita doakan, terikat dengan diri kita yang berdoa dan terikat pada Yesus yang mendengar doa kita dan menampung doa-doa kita di kirbatNya sampai tercurah dan dijawab doa setiap kita. Teruslah berdoa dan beri hidupmu untuk Tuhan dan serahkan segala kemampuanmu untuk dipakai Tuhan lebih lagi.

Senin, 01 Juli 2013

Titik Balik Pemutar Keadaan




                Maka menaburlah Ishak di tanah itu dan dalam tahun itu juga ia mendapat hasil seratus kali lipat; sebab ia diberkati TUHAN. Dan orang itu menjadi kaya, bahkan kian lama kian kaya, sehingga ia menjadi sangat kaya. Ia mempunyai kumpulan kambing domba dan lembu sapi serta banyak anak buah, sehingga orang Filistin itu cemburu kepadanya.” Kejadian 26 : 12 – 14. Dalam hidup ini kita pasti mengalami perubahan dari keadaan satu ke keadaan yang lain. Dari keadaan yang kurang baik berubah menjadi keadaan yang lebih baik. Masa-masa dimana kita mengalami perubahan adalah suatu masa yang disebut masa transisi / peralihan. Dimasa inilah kita sebagai anak-anak Allah harus memiliki respon yang baik dan benar. Titik dimana kita mengalami perubahan keadaan inilah yang disebut titik balik pemutar keadaan. Demikian juga seperti halnya Ishak dalam kejadian 26 : 1 – 14. Ishak mengalami masa kelaparan dan ia ingin pergi ke Mesir karena pikirnya di Mesir ada harapan. Tetapi saat di Gerar, Tuhan berfirman kepada Ishak agar ia tidak pergi ke Mesir. Ishak taat dan di Gerarlah Tuhan mengubah keadaan Ishak.
                Gerar adalah tempat persinggahan Ishak sebelum ia ke Mesir.  Gerar adalah tempat transisi yang bisa menentukan keadaan dan memutar balikan keadaan Ishak. Dan di Gerarlah Ishak disebut orang yang kaya, kian lama kian kaya, sehingga ia menjadi amat kaya. Ishak mengalami titik balik pemutar keadaan. Begitu juga dengan hidup kita hari-hari ini. Kita pasti akan mengalami hal yang sama seperti yang di alami Ishak. Allah selalu memelihara dan memperhatikan hidup kita seperti halnya Ia memelihara dan memperhatikan Ishak. Allah mengubah keadaan hidup Ishak karena Allah melihat beberapa hal yang dilakukan Ishak saat masa transisi.  Hal apakah yang dilihat Allah saat berada dimasa transisi dan apa yang harus kita lakukan?
1.       Adakah KETAATAN atas perintah, hukum dan ketetapan Allah dalam hidup kita.
Lalu TUHAN menampakkan diri kepadanya serta berfirman: "Janganlah pergi ke Mesir, diamlah di negeri yang akan Kukatakan kepadamu.” Kejadian 26 : 2. Apakah kita masih taat pada masa transisi? Belajarlah dari Ishak. Allah melihat ketaatan Ishak akan FirmanNya. Ishak berharap ada harapan di Mesir dan ia mau pergi ke Mesir, tetapi saat di Gerar Tuhan melarangnya untuk pergi ke Mesir. Ishak mengalami dilemma pada saat itu. Tetapi pada Kejadian 26 : 6. “Jadi tinggallah Ishak di Gerar.” Ishak taat dengan Firman Tuhan. Bagaimanakah hidup kita saat dihadapakan dengan keadaan seperti ini? Masihkan kita memiliki ketaatan akan Firamn Allah. Taatlah dengan Firman Tuhan agar kita melihat kemuliaan yang telah Allah sediakan buat setiap kita.
2.       Masih adakah IMAN PERCAYA kita kepada Tuhan saat masa transisi.
Tinggallah di negeri ini sebagai orang asing, maka Aku akan menyertai engkau dan memberkati engkau, sebab kepadamulah dan kepada keturunanmu akan Kuberikan seluruh negeri ini, dan Aku akan menepati sumpah yang telah Kuikrarkan kepada Abraham, ayahmu.” Kejadian 26 : 3. Sering kali kita tidak sabaran dan tidak percaya akan janji Allah. Jadilah seperti Ishak yang terus percaya dengan Allah saat kelaparan melanda bangsanya. Terus percaya akan janji Allah. Masihkan kita percaya akan janji-janji Tuhan. Semuanya tergantung sikap hati kita. Kalau kita percaya janji Tuhan buat setiap kita maka hal itu akan terjadi. Karena janji Tuhan ya dan amin. Tetapi kalau kita sendiri tidak percaya akan janji Tuhan maka hal itu juga yang tidak akan terjadi. Iman berbicara tentang percaya tanpa melihat. “Iman adalah dasar dari segala sesuatu yang kita harapkan dan bukti dari segala sesuatu yang tidak kita lihat.” Ibrani 11 : 1.
3.       Sudah adakah PEMBERESAN dalam hidup kita dengan sesama kita.
Tetapi Abimelekh berkata: "Apakah juga yang telah kauperbuat ini terhadap kami? Mudah sekali terjadi, salah seorang dari bangsa ini tidur dengan isterimu, sehingga dengan demikian engkau mendatangkan kesalahan atas kami." Kejadian 26 : 10. Saat itu Ishak berbohong kepada Abimelekh kerena ia tidak mengaku kalau Ribka adalah isterinya, ia mengaku kalau Ribka adalah saudaranya. Belum ada pemberesan yang dilakukan Ishak. Akhirnya Ishak pun melakukan pemberesan. Begitu juga halnya dengan hidup setiap kita. Sudahkan kita melakukan pemberesan dengan saudara kita atau dengan orang yang pernah menyakiti hati kita? Jangan ijinkan amarah, dendam terlalu lama ada di hati kita. Lakukanlah pemberesan. Sekalipun posisi kita benar tetapi lakukanlah pemberesan dengan sekitar kita kerena itu akan membuka pintu berkat buat setiap kita.
4.       Sudahkan kita MENABUR di lading Tuhan dalam setiap keadaan.
Maka menaburlah Ishak di tanah itu dan dalam tahun itu juga ia mendapat hasil seratus kali lipat; sebab ia diberkati TUHAN.” Kejadian 26 : 12. Sudahkah kita menabur di ladang Tuhan? Menabur tidak harus dalam keadaan kelimpahan. Ikutilah teladan Ishak yang berani menabur di saat keadaan kesusahan. Akhirnya Tuhan memberkati apa yang sudah Ishak lakukan. Ada 2 hal tentang menabur:
               a.       Rajin bekerja / tidak malas.
Setelah Ishak menabur, Ishak tidak diam saja tetapi ia terus bekerja dean mengolahnya sampai ia mendapatkan hasilnya. “Sebab, juga waktu kami berada di antara kamu, kami memberi peringatan ini kepada kamu: jika seorang tidak mau bekerja, janganlah ia makan.” 2 Tesalonika 3 : 10.
                b.      Menabung / investasi.
Saat kita menabur berarti kita sedang melakukan investasi. Investasi adalah hal yang akan kita dapat di kemudian hari karena apa yang sudah kita lakukan sekarang. Taburlah maka suatu saat kita akan menuai. Taburlah hal yang baik maka kita akan menuai hal yang lebih baik. tetapi saat kita menabur hal yang jahat maka kita juga akan menuai hal yang lebih jahat.


Ringkasan Khotbah
Pdt. Ir. E. Rudiyanto, M.Th
30 Juni 2013